Wednesday, November 16, 2005

Memelihara Lidah

Sebuah tulisan di Kolom Hikmah Republika, 10 Nop 2005. Buat direnungkan dan mari bermuhasabah... apakah kita sudah memelihara lidah kita? Lidah, nampaknya bukan hal yang sepele... lidah kita dapat menjerumuskan kita ke dalam neraka kalau kita tidak dapat menjaga lidah kita dari hal-hal yang dilarang. Semoga kita termasuk di dalam kelompok orang-orang yang selalu dapat memelihara lidah kita.


---

Memelihara Lidah

Oleh : Yusuf Burhanudin

Tidak terhitung banyaknya ajaran yang memerintahkan kita agar senantiasa menjaga lidah. Perintah untuk menjaga lidah ini bukan semata-mata muncul karena besarnya bahaya yang disebabkan oleh lidah itu sendiri. Perintah tersebut juga terkait dengan besarnya peran lidah dalam memenuhi dua kebutuhan mendasar dan terpenting bagi setiap manusia, yakni makan dan bicara.

Namun, di balik besarnya manfaat lidah, tersimpan pula dahsyatnya bahaya yang ditimbulkan lidah. Tidak hanya ketika berbicara, saat diam lidah pun bisa mengakibatkan pemiliknya menjadi berdosa. Saat lidah berbicara batil, baik kepada Allah SWT maupun manusia, saat itu pulalah dosa mengalir kepada pelakunya.

Perkataan yang diucapkan lidah, tidak terlepas dari empat hal. Ucapan yang seluruhnya mengandung mudharat, seluruhnya mengandung manfaat, seluruhnya mudharat dan manfaat, dan tidak mengandung manfaat maupun mudharat. Tentu saja, yang ideal adalah ucapan yang seluruhnya mengandung manfaat. Tapi yang namanya lidah itu tidak bertulang. Manusia sering khilaf. Betapa banyak orang yang tergelincir sekaligus dirugikan akibat pengakuan dusta. Di samping merugikan diri pemiliknya, lidah juga bisa merugikan orang lain.

Saat kita membiarkan lidah terdiam sementara kebatilan terjadi secara marak, maka kita pun bisa berpotensi untuk mendapatkan dosa. Atau paling tidak, kita akan digolongkan sebagai orang yang imannya paling lemah, karena tetap diam saat melihat kemungkaran terjadi di sekitar kita.

Saat ini, banyak sekali orang yang menganggap enteng urusan lidah. Manusia semakin ringan untuk menggosip, menggunjing (ghibah), bahkan memfitnah orang lain. Semuanya dilakukan tanpa malu. Pagi-pagi sekali kita sudah disuguhi oleh ragam gunjingan para tokoh dan selebritis hampir di seluruh siaran televisi.

Tidak terpikirkan bahwa aktivitas yang bernama ghibah itu bisa menyeret menjadi fitnah, pencemaran nama baik, dan tindakan lainnya yang bisa digugat secara hukum. Tidak disadari pula, jika pertentangan yang dibesar-besarkan antara dua insan, bisa-bisa malah turut melebarkan jurang permusuhan di antara keduanya.

Lebih parah lagi, nyaris dari semua materi yang digosipkan itu tidak ada yang bisa diambil hikmah dan teladannya. Semuanya hanya menjanjikan kesenangan sesaat atau hanya mengeksploitasi derita yang menimpa orang lain dan semacamnya. Gunjingan dan gosip-gosip itu juga kerap menyangkut kehidupan pribadi yang sangat sensitif.

Menggunjing orang lain adalah membuka aib sesama. Dalam Surat Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT melarang keras aktivitas seperti ini. Menceritakan aib orang, termasuk dosa besar. Perbuatan ini disamakan dengan memakan bangkai teman sendiri. Dosanya bertambah besar lagi apabila aib yang digunjingkan itu ternyata tidak pernah ada. Perbuatan ini sudah melangkah kepada fitnah dan adu domba. Pelaku perbuatan tersebut diharamkan masuk surga.

---..

No comments: