Monday, September 12, 2005

Mengukur Ilmu

Oleh: Aris Solikhah
(Sumber: Republika Online, Senin, 12 September 2005)

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah pernah berkata, ''Hendaknya kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan. Bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan. Bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi tak putus yang kita jalani. Tapi dari amal yang keluar dari setiap desah napas kita.''


Lewat kalimat tersebut Ibnul Qayyim ingin menekankan bahwa ilmu itu hadir untuk menciptakan amal. Ilmu yang tidak menghasilkan amal, sama sekali tidak berguna. Allah SWT mewajibkan manusia untuk selalu beramal. ''Beramallah kamu, sesungguhnya Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin akan melihat amal kamu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui perkara ghaib dan nyata. Maka Allah akan memberitahukan apa yang telah kamu kerjakan.'' (QS At Taubah:105).

Allah juga membenci orang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia kerjakan. Dalam Surat Ash Shaff ayat 2-3 Allah mengungkapkan, ''Wahai orang-orang beriman, mengapa kau mengatakan apa yang tidak kau perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kau menyatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.''

Amal yang lahir dari setiap ilmu, haruslah amalan yang baik. Ali bin Abi Thalib RA meyakini bahwa orang-orang yang mengumpulkan ilmu untuk membuat kekacauan dan mengembuskan fitnah, sangatlah dimurkai Allah SWT. Orang-orang yang seperti itu tidak sehari pun hidup dalam keselamatan ilmu, meski ia bersegera mencari ilmu dan menyebarkannya. Maka, seikat ilmu pengetahuan tapi mencukupi adalah lebih baik daripada banyak tapi disia-siakan.

Orang-orang demikian layaknya orang buta yang membawa lampu. Mereka mempunyai ilmu penerang hidup, namun hidupnya tetap dalam kegelapan abadi. Dia tidak akan menjadi ahli ilmu sebenar-benarnya. Dia hanya ingin mendapatkan kemuliaan dunia sesaat berupa pujian sebagai seorang ilmuwan dan posisi atau jabatan semata.

Tak jarang, ilmu yang dimilikinya bahkan malah membuat kekacauan, fitnah, dan membuat masyarakat merana. Nabi Isa AS pun pernah bersabda, ''Bagaimana bisa menjadi ahli ilmu, saat kebanyakan orang perjalanannya ke akhirat sedang dia ke jalan dunia? Bagaimana bisa menjadi ahli ilmu, orang mencari ilmu kalam untuk diceritakan bukan untuk diamalkan.'' Tingkat ilmu seseorang tergantung dari amal saleh yang ia kerjakan. Semakin banyak ilmu yang diamalkan maka semakin tinggi derajatnya di sisi Allah SWT.

Allah memberikan pahala berlipat-lipat kepada orang yang beramal saleh. Dalam Surat Al-Bayyinah ayat 7-8 Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya ialah Surga Adn (tempat tinggal yang tetap) yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, kekallah mereka di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha pada mereka dan mereka pun ridha (serta syukur) akan nikmat pemberian-Nya. Balasan yang demikian itu untuk orang-orang yang takut melanggar perintah Tuhannya.''

----

No comments: