Wednesday, September 15, 2004

Kupu-kupu Kita

Seorang menemukan sebuah kepompong kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil mulai tampak. Ia duduk menyaksikan kupu-kupu berjam-jam berjuang keluar melalui lubang kecil itu. Lalu kupu-kupu itu tampak berhenti. Ia tampak seolah sudah bergerak semampunya, dan ia tak mampu bergerak lagi.

Maka orang itu pun bermaksud menolongnya. Diambilnya gunting dan ia potong bagian kepompong yang masih tersisa. Kupu-kupu itu itupun keluar dengan gampangnya. Tapi tubuhnya yang kecil itu bengkak, dan sayapnya lunglai.

Ia terus menyaksikan kupu-kupu itu dengan harapan bahwa, suatu saat, sayapnya akan membesar dan mengauat hingga mampu menyangga tubuhnya, yang akan mengerut pada saat yang sama. Tapi tak terjadi. Nyatanya, kupu-kupu itu menghabiskan sisi hidupnya dengan merayap-rayap pelan dengan tubuhnya yang bengkak dan sayapnya yang lunglai itu. Ia tak pernah bisa terbang.


Apa yang tidak dipahami orang itu, dengan segala kebaikan dan ketergesaanya, adalah bahwa kepompong yang memenjarakan itu dan perjuangan yang mesti ditempuh kupu-kupu untuk keluar dari lubang kecil itu adalah cara Allah memeras cairan dari tubuhnya yang akan disalurkan ke sayapnya, sehingga sayap itu akan siap terbang begitu tubuhnya keluar dari kepompong.

Terkadang perjuangan demi perjuangan mutlak diperlukan kita dalam hidup ini. Jika Allah melenggangkan kita melewati hidup ini tanpa hambatan, itu malah akan melumpuhkan kita. Kita tak akan sekuat apa yang kita bisa lakukan. Kita tak akan pernah bisa terbang!


Aku mohon kekuatan
Dan Allah memberiku kesulitan demi kesulitan supaya aku kuat

Aku mohon kebijakan
Dan Allah memberiku berbagai problem untuk dipecahkan.

Aku mohon kemakmuran
Dan Allah memberiku otak dan otot untuk bekerja.

Aku mohon keberanian
Dan Allah memberiku bahaya untuk diatasi.

Aku mohon cinta
Dan Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Aku mohon kemurahan hati
Dan Allah memberiku berbagai kesempatan.

Aku tak mendapat apa pun yang kuinginkan
Aku menenerima apa pun yang kubutuhkan


Taken from:
Kisah-Kisah Pembawa Berkah
Penyusun: Haidir Bagir
(sumber: posting di sebuah milis)

No comments: